Jumat, 28 November 2008

How Far Can You Go?

phew...that was almost!

The following story that you are about to read is true. Even so, the author holds no responsibilty in any replication of the following story nor any implications that followed any failure to meet the same result on the replications. In other words: "Do it on your own risk".

Fully God's mercy, (I thank Thee, Lord!) vaguely BBC's Top Gear shows memory, and a smear chance of luck, I went incredibly far today. My car has shown its significance in fuel efficiency and reliability to the max that I've known so far. Yes, the manufacturer said that this car is efficient. Yet the manufacturer has never count the real traffic that each and every Jakartans need to battle out each and every day. Combined with the condition of rush hour, completely out of money and barely any fuel left, a potential disaster was spying right aroud the corner.

Though my love life, hypothetically speaking, would have been better off if I ride one of these 2,500 cc-engine-powered-macho-vehicle. My car proved to me that I would--in aggregate--better off with her instead.

Ok. So it's not the prettiest car on earth. It may not be the choice of celebrities, royals, and head-of-states. But holding the circumstance that I am this ever "bokek" undergraduate student, my car is perfect. It has a nice 1,500 cc engine with 110 horse power enough to hit 120 km/h without any problem. It has an automatic transmission that would be significantly helpful in times of traffic jam. And yet, it has all the convenience that you would expect from a Honda.

Back to the potential disaster. It all started this morning when my mother is still in her peaceful state of slumber when I woke her up and ask whether there were any fuel left in my car tank (my mother used my car the day before). She shortly confirmed that there were some fuel left. And so I went to the campus. Stupidily, I didn't check the fuel the whole journey to the campus. Long story short, I arrived at my campus and lived my another-so-so-campus-day once again.

I took a mock TOEFL test as a significant marking component in my subject today. It cost me Rp100,000 (which was all I have minus the parking fee I spared for the day). And the problem starts right when I turned my engine on. I noticed that my fuel indicator was not in the position that would rest me assured. Shocked, I was trying to find any money left in my pocket. None. All that were left in my wallet were some useless SG$20.

So I embraced myself and start my journey back home. It was 6 at that time, and the traffic is never good at those times. My short-minded brain tell me to hit the gas and reach home as fast as I can. But my logical memory told me to go slow. As I watched Top Gear months ago, one of the host actually went completely from one city to another in a limited fuel. The host held the rpm constant and reduce any sudden brakes or acceleration. And so I did. During the 17.31 km journey (as shown below), I held a constant 1,000-1,500 rpm and reduce the amount of brakes and unnecessary acceleration. It was not the velocity that counts, but the rpm that counts. And I made it. T_T Thank God I made it! I love you, car!

Sabtu, 22 November 2008

Ga kuat!

Bagi gua, ada begitu banyak lagu yang bisa membuat gua merinding, terpukul, dan di beberapa kasus extreme, nangis. Pertanyaan besarnya adalah: "What are the factors that counts when we're talking about songs?"

Untuk pertanyaan satu itu, gua punya seribu satu jawaban. Mulai dari penyanyinya, lagunya, liriknya, aransemennya, dan banyak remeh temeh lainnya. Tapi seperti halnya dengan puisi, you just know that it's a great song. Beberapa hari ini, contohnya, gua terbayang-bayang dan dihantui lagu "At Last". Sebuah lagu standar blues yang sudah dinyanyikan "many times, many ways, by many singer". Ini lagu pertama kali dinyanyiin sama Etta James. Dan gua percaya, Etta James adalah penyanyi yang cukup gila menyanyikan lagu ini. Pendalaman karakternya bener-bener unbelieveable. Kayak ada kekuatan yang bener-bener galak dalam suaranya. Sampai akhirnya gua denger dari Rezon kalo Beyonce Knowles meranin karakternya Etta di film The Cadillac Records.

Ok. Karakternya si cocok. Dua-duanya penyanyi dengan suara yang lethal. Dua-duanya punya charm. Dan dua-duanya kebetulan "ratu" di jamannya masing-masing. Tapi bukankah lagu "At Last" udah kayak punya Etta? Ga ada deh satu orang juga di dunia ini yang bisa nyanyiin lagu ini tanpa dibandingin sama penyanyi aslinya. That is, until I heard Beyonce sing this song. Komentar resmi gua akan "At Last" yang dinyanyiin sama Beyonce? (lu orang boleh catet!) "KILLER!"

Sialnya, biar pun tanggal tayang The Cadillac Records Movie di Amerika Serikat udah pasti (5 Desember ini), tanggal tayang film ini di Indonesia masih belon jelas. Akhirnya, gua harus menunggu sampe akhirnya ni pelm ada di Indonesia dan gua juga harus menunggu sampe ost-nya keluar di pasaran sebelum akhirnya ngebeli cd aselinya (yes, gua berani beli tuh satu cd original biar harus nabung dulu cuma gara-gara ngedenger satu track doang--hebat ga tuh tu lagu?)

Gua tentu ga mo lu orang penasaran dong? Oleh karenanya, gua akan kasih lu orang link ke lagu itu di imeem, terus kasih video dari youtube buat lu-lu pade yang males ngeklik-ngeklik lagi. Oh iya, buat yang ngeklik ke link lagunya di imeem, itu lagu ada di bawah-bawah. Scroll aja dulu ampe ketemu tu lagu di playernya. Gampang kok nyarinya. Gua yakin lu orang ga segaptek itu. Jyahahaha.

By the end, gua mo nyelametin Beyonce karena keberanian dia nyanyi ni lagu di depan Etta James (Duh, Yon. Hebat banget sih Loh?! *sok kenal*). Gua salut juga ama kerja keras Beyonce sampe dia bisa ngalahin image Etta yang kentel banget di lagu ini (pendapat pribadi gua nih). Dan buat lu pade, enjoy!

Jumat, 21 November 2008

Buru-buru...

Cuma buat nepatin janji aja, gua akan post rambut yang gua poto buru-buru.

Hari ini adalah hari ulang tahun Oma gua (Happy Birthday, Oma!) dan di makan-makan hari ini, gua ketemu ama keponakan gua yang lucu itu. Senang sekali. Gua pun akhirnya membuat link khusus supaya Anda semua, Para Pembaca Budiman, dapat berbagi gemas dengan gua. Jyahahahah. Bagi anda yang malas untuk pergi ke halaman Klarita Jovecy, berikut satu foto yang gua minta dari maknya. Jyahaha. Demikian posting pendek yang buru-buru dari saya.


Rabu, 19 November 2008

Coming Up Next...


Rainy Days And Mondays - The Carpenters


Saya suka cuaca belakangan ini. Setelah dihadapkan pada hari-hari panas yang melelahkan di minggu-minggu sebelumnya, saya sudah cukup muak dengan matahari. Harus saya akui, kebanyakan rasa muak saya ditimbulkan oleh banyaknya keringat yang saya produksi akibat udara panas tersebut. Entah mengapa, saya mudah sekali mengeluarkan keringat. Dan lagi, keringat saya ini bukan keringat biasa (BKB--saingannya Bukan Bintang Biasa: BBB). Selain jumlahnya yang banyak, keringat saya bersifat korosif. Entah berapa banyak jam tangan yang terbuat dari logam yang telah menjadi keganasan keringat saya. Kebanyakan jam tangan logam saya berakhir karatan dan justru menyebabkan kulit pergelangan tangan saya memerah dan gatal-gatal. Sampai akhirnya saya menemukan jam tangan warisan dari Ai saya yang secara ajaib tidak terpengaruh oleh keringat saya.

Selain itu, saya meyakinkan Anda, Para Pembaca Budiman, kalau saya akan terlihat seperti babi kalau sedang berkeringat akibat udara panas. Kulit saya akan memerah parah dan rambut saya yang bergerai-gerai itu akan mulai terlihat lepek ("lepek" apa ya bahasa Indonesianya? Jyahahaha) sedemikian rupa sehingga saya terlihat seperti babi gendut merah yang menjijikan (baca: oom-oom senang). Selain kebencian saya yang begitu mendalam akan udara panas, saya mencintai udara mendung dan hujan karena ada begitu banyak romantika yang tersimpan dalam cuaca tersebut. Seperti yang Anda semua tahu, Indonesia tidak memiliki musim salju atau musim gugur. Maka, satu-satunya pelarian romantis dan bermelankolis ria bagi orang-orang Indonesia (menurut saya) adalah musim hujan.

Seperti hari ini, saya begitu menikmati udara luar kamar sore ini hingga saya merasa begitu nyaman. Tambah teh hangat dan lagu-lagu The Carpenters (seperti yang mungkin Anda dengar saat ini), jadilah sore yang sempurna versi Yosua Mahardika Putra. Ohohoho.

Memang, ada dampak negatif yang begitu signifikan dari hujan (banjir, nafsu makan meningkat tajam, jalanan yang begitu licin untuk dilalui, kubangan air, you name it). Tapi tanpanya, saya tidak bisa hidup. Saya perlu hari-hari adem untuk bermalas-malasan.

Malasnya saya juga berimbas pada rambut saya. Ingat rambut yang berkibar-kibar itu? Sudah tak ada lagi. Jyahahah. Yep, di hari yang hujan-hujan seperti ini saya memutuskan untuk memotong pendek rambut saya. Saya tentu harus berdebat panjang mengenai model rambut saya dan di mana akan saya potong rambut saya. Ibu saya--seorang pemotong rambut--selalu senang dengan rambut panjang saya. Tekstur dan berat rambut saya memang mirip dengan rambut-rambut yang ada di iklan-iklan shampoo *membanggakan diri* sehingga sayang rasanya bila dipotong. Pengalaman saya selama 21 tahun terakhir ini mengajarkan kalau ibu saya selalu memotong rambut saya sesuai dengan keinginannya untuk melihat keindahan rambut tersebut. Sehingga memotong rambut pendek-pendek selama 20 tahun pertama seperti tidak mungkin.

Bahkan, ide rambut pendek pada diri saya harus saya perkenalkan secara drastis. Cheng beng lalu, saya memotong rambut saya atas permintaan yang sangat mengganggu dari ibu saya. Beliau secara terus menerus meminta saya untuk memotong rambut untuk merapihkan ujung-ujung rambut saya (ya, ujung-ujung. Karena Beliau tak mau panjang rambut saya berkurang). Dan akhirnya, saya memotong rambut saya di kota Padang dengan supervisi Beliau. Perjanjiannya saat itu, saya berhak menentukan model rambut dan Beliau tidak boleh protes sama sekali. Hasilnya, saya memotong rambut saya semi-mohawk ala Tuan David Beckham. Tak ayal, ibu saya kaget. Seluruh keluarga besar memberi respons yang beragam. Mulai dari paman saya yang berteriak kaget bak perempuan Jepang, sampai ke kakek saya yang menamai model rambut saya dengan sebutan model rambut "Ayam Pecah Bulu" (kata Beliau, saat ayam sakit, bulu ayam tersebut akan pecah-pecah seperti rambut saya kala itu). Baru setelah rambut saya panjang, ibu saya bercerita bahwa malam setelah saya memotong rambut sedemikian rupa Beliau menangis dan tidak bisa tidur semalam penuh. Tapi rencana saya berhasil. Ibu saya menerima kalau rambut pendek juga ok. Betapa pun, ibu saya tetap pada pendiriannya kalau saya cocok berambut panjang. Oleh karenanya, setelah kejadian heboh di atas, Beliau selalu memastikan kalau rambut saya tidak dipotong segila dulu. Kontrol pun diperketat.

Secara personal, saya menolak bila Beliau mau memotong rambut saya akhir-akhir ini. Alasan ketidakberanian Beliau memotong rambut saya secara drastis menjadi alasan pamungkas saya. Kami pun sepakat kalau acara memotong rambut perlu dilakukan oleh orang lain dengan peralatan yang lebih memadai. Oleh karenanya, kami memerlukan waktu yang cukup lama untuk mencari tempat potong rambut yang cocok dengan selera kami berdua.

Tentang model potong rambut kali ini, saya memang secara eksplisit menyatakan hendak memotong rambut "tukang-teh-botol" saya. Beliau setuju asal diselesaikan oleh orang terpercaya dan modelnya tidak urakan seperti dulu. Jadilah kami berangkat dan untuk memotong rambut saya di daerah Joglo. Hasilnya memuaskan. Saya senang, Mama pun senang.

Sayangnya, saya tidak bisa menunjukkan hasilnya dulu pada Anda, Para Pembaca Budiman. Pencahayaan yang kurang optimal pada hari-hari hujan menghentikan saya untuk memfoto diri sendiri dan menunjukkan rambut baru ini pada Anda *Ala~~~h. Bilang aja males*. Oleh karenanya, saya berjanji untuk memfoto diri saya dan menunjukkan rambut baru saya pada Anda segera setelah ada kesempatan baik (baca: postingan selanjutnya). Sampai saat itu, Anda harus puas dengan lagu yang saya sediakan pada posting kali ini. Hehehe.

PS: Special Thanks for iMeem and ~ UNTAMED DESIREZ ~

Selasa, 18 November 2008

Topics To Say...

No, Cink, when I refer to "Para Pembaca Budiman", I mean "Para". Real "Para". It's just that my Indonesian readers don't comment somehow. Jyahahah.

Beberapa hari ini saya berpikir untuk mencari topik. Bukan, bukan untuk skripsi saya (yang entah kapan akan saya kerjakan itu), tapi untuk dibicarakan kepada Anda, Para Pembaca Budiman. Entah mengapa, saya seakan kehabisan topik untuk di"obrol"kan. Sampai saya mendapat surat elektronik dari youtube yang menotifikasi adanya video-video baru dari langganan saya. Dan, voila, saya menulis.

Seperti yang beberapa dari Anda tahu, saya memiliki perhatian besar terhadap makanan (selain badan yang besar yang juga diakibatkan oleh makanan, tentunya). Saya begitu cerewet soal rasa makanan saya. Tidak peduli makan di pinggir jalan mana, asal makanan tersebut enak, saya tak segan-segan mempromosikan dan mengingat-ingat lokasi jualan makanan tersebut. Demikian pula sebaliknya, bila makanan tersebut tidak enak, tak peduli makan di restoran kelas atas mana, saya tak segan-segan menjelek-jelekkannya di depan semua orang.

Kecintaan saya akan makanan tentu dimulai dari kebiasaan keluarga saya yang mampu pergi "ke ujung dunia" untuk mengejar makanan enak. Kami biasa pergi tengah malam ke tengah kota untuk sekedar makan bubur atau mie favorit kami. Tak jarang, kami bangun subuh-subuh supaya bisa makan mie Kota Kembang di daerah krekot. Sehingga, bila Anda bertanya pada saya, saya tidak begitu tahu apakah saya "makan untuk hidup", atau "hidup untuk makan".

Saya percaya ibu saya berperan sangat besar dalam pembentukan karakter "cerewet" dan "sok kritikus makanan" saya. Bukan karena Beliau adalah orang yang cerewet atas makanan, namun lebih kepada keahlian beliau memasak. Selain seorang koki yang berpengalaman, Beliau (menurut saya) adalah koki yang luar biasa. Entah mengapa apa-apa yang dimasaknya kebanyakan enak. Anda mungkin berkata "Ya, iya lah. Itu Mak lo! Don't we all think that our Mum is a good chef?" Tapi mengingat lidah saya yang cerewet ini, Saudara, percayalah, saya tahu apa yang saya katakan (terbukti dengan beberapa teman saya yang sudah mencobai makanan Mak saya dan seakan tak bisa berhenti. Entah doyan, laper atau memang rakus. Hohoho). Pengalaman makan makanan yang enak tiap-tiap hari inilah yang membuat lidah saya peka terhadap makanan yang tidak enak.

Saya percaya akan kekuatan kuliner orang-orang Indonesia. Menurut saya, kita begitu diberkahi dengan makanan-makanan dengan cita rasa yang kuat dan endang bambang gulindang (enak, begitu). Maka ketika saya mendapati makanan yang saya beli tidak enak, saya akan merasa kesal karena telah membuang uang dengan percuma dan telah membuang kesempatan makan enak saya hari itu. Seringkali, makanan mempengaruhi mood saya dan menjadi obat yang mujarab bagi mood saya yang sedang jelek.

Kembali ke soal youtube, surat elektronik saya menotifikasi kalau saluran langganan saya telah bertambah satu resep baru. Saya berlangganan saluran Foodwishes. Yang menarik dari saluran ini adalah saluran ini selalu menciptakan makanan dengan cara yang mudah (atau dalam kasus saya TERLIHAT mudah: Hey, saya kritikus makanan dan bukan koki) dan tidak sok kechef-chefan. Ditambah, suara Chef John yang terdengar begitu bersahabat dan sincere, jadilah channel ini begitu menarik. Video berikut bukan merupakan video terbaru dari Chef John, namun sangat menarik perhatian saya (rasanya pengen makan apple pie). Selain bisa dilihat di youtube, video-video Chef John dapat dilihat di www.foodwishes.com. Jadi, kalau boleh saya meminjam kata penutup Chef John, "Enjoy!"


Kamis, 13 November 2008

Bayar hutang...

Ada begitu banyak alasan saya tidak menulis kepada Anda selama satu minggu ini, Para Pembaca Budiman. Untuk memulainya, minggu ini adalah minggu yang berat bagi saya. Seperti yang beberapa dari Anda ketahui, saya adalah mahasiswa semester akhir di universitas tempat saya belajar saat ini. Mengingat tugas dan tanggung jawab saya tersebut, saya ingin mendapat nilai yang baik pada mata kuliah-mata kuliah saya yang terakhir. Dua di antara mata kuliah-mata kuliah tersebut adalah "Manajemen Lintas Budaya" dan "Budaya Organisasi". Dua mata kuliah tersebut kebetulan diajar oleh dosen yang sama. Dan dosen tersebut adalah dosen yang cukup sibuk. Saya dan kelompok saya pun, akhirnya mendapat giliran presentasi pada dua minggu berturut-turut. Akhirnya, saya dan rekan kerja pun bekerja kalang-kabut untuk menyelesaikan presentasi tersebut. Untungnya, dosen kami ini cukup melek teknologi. Beliau bahkan adalah seorang pemakai setia Facebook. Hohoho. Oleh karenanya, pertanyaan-pertanyaan kami dijawab dengan cepat dan efisien menggunakan e-mail. Untungnya, kedua-dua presentasi yang berakhir hari selasa lalu berjalan dengan mulus. Dosen kami terlihat cukup puas dengan kerjaan kami yang dikebut itu. Hehehe.

Alasan kedua, Sosodara, adalah karena saya tidak hendak merepotkan Anda dengan dua posting yang terpisah mengenai satu topik: pameran. Oleh karenanya, saya menunggu untuk mendatangi dua pameran sebelum akhirnya memutuskan untuk memberitakannya kepada Anda. Maka, segera setelah saya pulang dari Incocomtech, saya menulis pada Anda (Betapa saya sangat sayang pada Anda, coba! Kurang apa lagi?)

Kita mulai dari pameran. Seperti yang saya ceritakan di sini, saya berniat untuk mendatangi dua pameran paling anyar di Jakarta: Indonesia-Japan Expo 2008, dan Indocomtech. Yang satu merupakan pameran produk-produk Jepang, dan yang satu lagi merupakan pameran tahunan yang berkaitan dengan komputer dan dunia persilatan perkomputeran. Hohoho.

Mengenai Indonesia-Japan Expo saya tak dapat bercerita banyak. Selain karena pamerannya tidak terlalu menarik, saya sendiri bersama teman saya datang pada saat yang kurang tepat. Selain datang di tengah hari bolong, kami datang pada hari kerja. Walhasil, kami ke tempat pameran dengan disambut pameran yang sepi pengunjung. Sebenarnya, saya mengharapkan akan melihat banyak kebudayaan Jepang di sana. Namun apa mau dikata, yang ada di sana lebih ke arah pengenalan produk negeri matahari terbit. Saya malah melihat Indonesia di masa depan. Dengan norak, saya berfoto di display calon MRT Indonesia. Hohoho.

Pameran kedua--Indocomtech--seperti merupakan obat yang saya tunggu-tunggu. Seperti biasa, saya selalu terhibur dengan pameran-pameran macam ini. Ya teknologinya, ya displanya, ya ramainya. Tapi yang paling penting ya... Murahnya. Hohoho. Memang, semurah-murahnya harga yang ditawarkan, saya tetap harus merogoh kocek yang dalam. Tapi bukankah pengetahuan akan harga-harga barang dambaan merupakan pengetahuan yang sangat berharga?

Bicara soal display, Indocomtech bagi saya adalah pameran yang sangat sayang untuk dilewatkan. Selain PRJ, di sinilah para vendor berlomba-lomba untuk mengeluarkan modal. Bagi saya, modal yang dikeluarkan oleh para vendor sangat well-spent. Betapa tidak? Baik kualitas dan kuantitas stand begitu mencolok. Dan menurut saya, stand-stand dengan display yang menarik inilah yang sering mencuri perhatian pembeli dan pengunjung pameran.
Saya pun akhirnya membeli sebuah bluetooth transmitter dengan harga Rp50.000,-. Agak mahal memang bila dibanding dengan transmitter pada umumnya. Namun mengingat ukurannya yang begitu menggoda, saya cukup terhibur. Toh, saya sudah keliling-keliling satu pameran tersebut untuk mendapatkan harga yang paling murah. Sekedar tips untuk Anda, jangan terburu-buru membeli barang di pameran. Berkelilinglah. Pengalaman mengajarkan saya kalau lima meter dari toko tempat Anda berdiri ada barang yang sama dengan harga yang lebih murah Rp5.000,-. Hohoho. Dan lihatlah, hasil jalan-jalan saya hari ini. Bandingkan dengan besar tangan saya. Si penjual sendiri mengklaim kalau si pentul ini mampu mentransfer data ke device lain yang bermeter-meter jauhnya.

Kegiatan lain minggu ini meliputi mengurus kedua anggota keluarga baru. Bukan, Para Pembaca Budiman, bukan sepupu baru yang merupakan sepupu The Dwarfs, namun dua kelinci lucu yang bernama Mika dan Chika. Adik saya begitu perhatian dan begitu bodoh sampai-sampai ia selalu merasa kalau kedua kelinci tersebut kelaparan. Benar saja, dengan formula"Ketidaktahuan + Kesoktahuan = Kebegoan", adik saya memberi makan kol ke kelinci-kelinci malang tersebut (yang setelah saya cek di internet, kol berbahaya bagi kelinci karena dapat menyebabkan gas berlebih pada lambung yang dapat menimbulkan mencret, kejang, dan berujung pada kematian). Segera setelah saya beritahu kondisi yang membahayakan tersebut, adik saya kalang-kabut. Untungnya, kedua kelinci tersebut tidak kenapa-napa. Jyahahaha.


Minggu ini juga merupakan minggu kompetisi. Setelah sebelumnya saya bertarung makan mie ramen super pedas, saya minggu ini menjawab tantangan di sebuah restoran untuk makan nasi goreng dengan porsi ganda dalam waktu kurang dari lima belas menit. Hah! Terang saja tantangan ini saya menangkan dengan amat mudah. Saya pun membalas kekalahan saya dari Christy dengan mencatatkan waktu yang lebih cepat lima menit dari beliau. Yang unik dari kompetisi ini adalah tiap pemenang berhak mendapat voucher makan gratis segera setelah dia disorakin satu restoran. Ini yang saya tidak tahu. Maka kagetlah saya dan teman-teman saya ketika kami disoraki oleh seluruh karyawan restoran tersebut (pake acara tiup terompet segala lagi). Entahlah mana yang lebih menantang: makannya, atau malunya. Jyahahaha.

Kompetisi juga dilakukan di kafe Strawberry. Bagi Anda yang belum tahu apa itu Kafe Strawberry, Kafe yang masuk daftar 100 kafe favorit Jakarta ini menyediakan board games untuk dimainkan saat Anda makan-makanan ringan maupun berat yang disediakan di sana. Sialnya, Kafe ini menyediakan bedak. Maka demikianlah saya pulang di jam satu pagi dengan keadaan hancur lebur seperti yang tampak di bawah ini. Esok harinya, jerawat besar timbul di pipi saya. T_T


Demikian laporan dari saya. Semoga Anda berkenan. ^^

Rabu, 05 November 2008

The Measure Of A Man...

Some says, the measure of a man is laid upon his word. Thus, to fulfill my destiny as a man, let me deliver the following remarks as a price for my own words.


Letter Of Apology

I, Yosua Mahardika Putra, hereby apologize for my careless act of not including the activity of "chatting with my friend, Ms. Esperanza Wendyono" as a part of my important activities mentioned earlier at this blog.

There. I said it. I paid my promise.

Back to the measure of a man. Martin Luther King, Jr. said (and I quote) "The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy." And so, as a proof to my manhood I accept a daring out-of-my-comfort-zone challenge. As some of you might known, I am not a person with a high level of tolerance towards chilli (Gave me anything hot, and I'll sweat like a pig). And so to eat a super hot ramen is absolutely out of my habit.

Unfortunately, Christy came to me at lunch time and informed me that there is a challenge next to the place I was sitting. The challenge was set by the management of a certain restaurant. The challenge itself was to eat a super-hot ramen in 20 minutes. Those who managed to do the challenge in the given time, will receive a handsome reward of one free meal in the restaurant with a certain menu.

A man needs to hold his pride and dignity high, and as simple as that logic, I need to do this as a test to myself. A big-time-eater as I am cannot be beaten by such an easy challenge, can I? And so I stupidly fell into the challenge.

My ego rushed me to took the challenge. As the stopwatch started, I furiously took the first bite. Yes. It is hot both in Celsius and Scoville. I was okay in the first few sips. Then after the following minute, I began to feel the burning sensation. In the next three minutes I've ate the entire noodle. Unfortunately, the challenge isn't over yet. The rules specifically demanded me to drink the soup until (at most) a tea spoon of it is left. And let me assure you, Ladies and Gentlemen, the soup is the lethal part of the entire challenge.

By the fifth minute, my body started to reject what I was eating. I started to shiver. The next phase involve goosebumps and choking on green onions. Rest assured, I will never do such thing again (STUPID EGO!!!).

However, I have proved to myself that I can if I want to. I finished the entire meal in precisely 11 minutes and 13 seconds. Of course, it is not a record-breaking time. But coming from someone who dislike chili, I earned my friends' respects (including Christy's who finished her ramen in 4 minutes).

With you, Ladies and Gentlemen, I share this winning (the price is not for share, of course. Afterall, I'm the one who still got an upset stomach up until now). As every man has his own battles, I won this one.


Senin, 03 November 2008

Anger...

I'm not the man I am in my typical days when I am angry. Yes, Ma'am, I am this bag of fat full of tantrums when I am angry. You see, I may not have a specific outrage, but a single stupid stuff can blew my day away. As for today, I was in a content mood. That is, until my sister came and dominate the computer.

What you must understand, Ladies and Gentlemen, although my laptop is a "tablet PC", there is nothing personal at all on it when my sister around (believe me, I do want my "Personal Computer" to be personal). As the matter of fact, my computer had been a "PC". Only this time "PC" does not stands for "Personal Computer", but this "PC" stands for "Public Computer". It is a computer that my father like to use (although not to operate) to view clouds on Google Earth. It's the computer my parents use to view soccer games which are not broadcasted in Indonesian television. It's the computer that the dwarfs will use to complete their assignments. And lastly (and the most agitating), it's the computer that my stupid-nerve-wrecking-hideous-moron sister use to do unimportant stuffs. And when I say "unimportant", Ladies and Gentlemen, it is truly "unimportant".

She would spend hours on facebook scraping for stupid guys that she doesn't even know. She would go nuts if I refuse to grant her to use the messenger (which she use to chat with her friends--people who still live in Jakarta and cost you not-even-a-single-dime to text). She would go mad if I change the password without her consent. She would spend hours on the screen to find some stupid Korean boyband photos to admire at. She would selfishly sit still when I told her to move and gimme the computer as I need to use it. All these, and more stupid acts that made her looks as if she is the owner of the laptop!

Okay, so I do use my computer on unimportant things too. But my prerogative is that I OWN THE COMPUTER! I use my computer mostly on important stuffs. My thesis, my assignments, my presentations, my marks are absolutely dependent to this ol' faithful machine. Moreover, I paid the internet religiously. It's amazing how I can commit myself to spare some money to fulfill a commitment despite my demanding money-draining-needs under a strict budget. And she just can't appreciate that! HAH!

And so, I ask your wisdom, Ladies and Gentlemen. Is it my fault to use my computer? Is it harmful for the humanity if I wanted to have my own private computer? I mean, I earned it. I went to this university and I got the computer on my efforts as a reward. I don't mind my computer to be used by others every now and then. But, isn't it too much when I am limited to use my computer to a certain time just to please my naggy sister? Good Lord, forgive me for I have sins. But lemme confess this to You, Dear God: my very first sin this week is spent on my tantrums for my own sister.

And so, I hate my sister for this. She is a good person in general. But when she is in her bad days (as today is), she is no more than just the most hateable person.

PS: @ Cink2x: I think they are not obligated to use the specific eraser. As a matter of fact, I did not recalled any such rules being imposed to us back in our days. However, on the same days, we pretty much were not left with a lot of option as a typical child would have in today's "dunia persilatan penghapus", do we? Fuhuhu. As for the Tip-ek, the reason behind the ban on tip-ek is that they are not allowed to use pens. Therefore, an eraser would be sufficient and anything beyond that (including tip-ek) is unnecessarily ineffective. Hehehe.

Minggu, 02 November 2008

The All New Air Conditioner: Blessing In Disguise

Ya, Para Pembaca Budiman, Gambar di sebelah ini merupakan AC baru saya. Bukan, bukan saya sengaja mengganti AC window saya yang lama (percayalah, AC window tersebut masih ada di rumah saya. Terima kasih atas jasa-jasamu, AC T_T) tetapi karena AC yang baru ini adalah kiriman berkat yang tidak pernah saya duga-duga.

Seperti yang telah saya tulis di sini, kamar di atas rumah saya tengah direnovasi untuk dijadikan kamar yang layak bagi ketiga sepupu saya yang bersekolah di Jakarta baru-baru ini (sepupu-sepupu ini selanjutnya saya sebut dengan sebutan "the dwarfs"). Awalnya, rencana renovasi ini mengurungkan niat saya untuk meminta sejumlah uang dari orang tua saya untuk mendanai "petualangan festival" saya bulan ini. Rasa kecewa, sedih, marah, dan berbagai perasaan negatif lantas meliputi kalbu (tsa~~~h kalbu~~~). Siapa sangka AC baru mengubah cara pandang saya akan renovasi kamar the dwarfs tersebut?

Awalnya, saya mengantar orang tua saya beberapa hari lalu untuk membeli AC. Saya pun tak keberatan sebenarnya bila harus tetap menggunakan AC lama saya. Toh, saya sudah seperti memiliki ikatan batin dengan AC baheula tersebut. Tapi siapa juga yang hendak menolak rejeki nomplok di depan mata? Segera setelah tawaran dari ayah saya datang, insting untuk mencaplok kesempatan langsung bekerja. Maka saya membarter AC lama saya dengan AC baru. The dwarfs tentu saja harus hidup dengan kenyataan pahit kalau mereka harus puas dengan AC warisan saya (ketawa jahat).

Tapi saya tentu tidak melepas tanggung jawab moral saya. Sebagai pemilik lama dari AC itu, saya tidak meninggalkan mereka AC yang bobrok kondisinya. AC yang mereka terima adalah AC teknologi lama yang masih bekerja dengan baik. Tentu, tidak ada fungsi swing, sleep, atau fungsi-fungsi mutakhir lainnya. Namun, dalam urusan memenuhi fungsi dasar AC sebagai pendingin ruangan, AC tersebut tidak kurang suatu apa pun! Oleh karenanya, Sosodara, mereka sebenarnya mendapat good deal karena tidak harus mengorbankan apa-apa untuk mendapatkan AC tersebut. Pihak yang kalah dalam hal AC-perACan ini adalah (tentu saja) ayah saya (baca: si pengeluar dana). Kasihan Beliau. Hohoho.

PS: to Cink2x, iya tuh, gara-gara penghapus biru-oren itu, buku gua ampe robek-robek karena gua maksa pake penghapus yang biru saat yang oren abis. Jyahahaha. As for the candy, maka dateng buru-buru. Hohoho.

Sabtu, 01 November 2008

The Things That Put The Word "Yes" On "Yesterday"...

Ada begitu banyak benda yang mampu membangkitkan kenangan gua akan masa lampau (meskipun masa lampau gua ga banyak-banyak amat--I'm not that old, you know). Gua dengan mudah mengingat masa-masa SD gua tatkala gua melihat penghapus putih berujung hijau yang dihiasi dengan salah satu huruf alfabet. Gua terkesima saat mendengar lagu "Larger Than Life"-nya Backstreet Boys yang langsung melemparkan gua kembali ke masa-masa SMP. Mengagumkan betapa kenangan yang terkubur begitu lama bisa terpicu oleh benda-benda kecil dari masa lampau. Maka, tak heran bila gua menggila melihat benda-benda masa lampau yang ditampilkan di sebuah thread di forum Kaskus. Sekelebat, masa TK gua berputar-putar dalam ingatan kayak di tipi-tipi.

Menurut gua, benda yang paling kuat dampak flashback-nya kebanyakan berupa makanan. Entah mengapa, makanan kecil memiliki tempat yang spesial kalau kita berbicara tentang ingatan jangka panjang gua. Gua mengingat secara detail tidak hanya bentuk dan warna kemasan, namun juga rasa tiap-tiap makanan kecil tersebut. Tidak hanya nama makanan kecil, gua bahkan masih ingat preferensi varian rasa yang merupakan favorit gua.

Salah satu makanan kecil yang berbekas dan masih dapat dijumpai (ya, "masih dapat". Bukan "seringkali") adalah permen yang berbentuk cincin. Bentuknya yang unik membuat gua teringat betapa gua dulu sering merengek-rengek minta dibelikan permen tersebut. Soal preferensi rasa, gua masih ingat betapa gua suka rasa anggur dan rasa melon. Wanginya itu loh, Para Pembaca Budiman, khas sekali. Maka ketika gua menemukan kesempatan baik (barang ada, duit pun cukup) untuk membeli permen tersebut, gua langsung membeli 10 permen cincin tanpa banyak ba-bi-bu. Namun, setelah mengenyot setengah dari cincin melon, gua tersadar betapa gua sangat kuat untuk menghabiskan permen tersebut dulu. Maksud hati gua hendak menghabiskan permen Rp2.100,- itu, tapi apa dikata, mulut emang udah terlalu monyong dan terlalu dower untuk mengenyot lebih lanjut. Alhasil, terbuanglah seperempat permen tersebut setelah isapan-isapan (baca: usaha deperate untuk menghabiskan permen itu) yang terakhir.

On the same note, gua kemungkinan akan mengingat masa-masa kuliah gua dengan sushi. Gua memang menikmati sushi gua terutama pada tahun-tahun terakhir ini. Bila tidak dengan makanan, gua akan mengingat tahun-tahun ini dengan busway. Meski banyak kekurangan di sana-sini, gua menganggap busway sebagai transportasi yang efisien (terutama bila lu berlawanan arah dengan kebanyakan orang pada rush hours). Dan keefisienan Transjakarta dibuktikan dengan hadirnya gua di restoran Shantung di Jalan Antara dalam rangka memenuhi undangan Kuku gua yang kebetulan berulang tahun tanggal 1 November ini. (Happy Birthday, Ku!).

Tidak hanya lebih cepat dari bapak gua yang--dalam waktu bersamaan--naek mobil dari rumah, gua bahkan lebih cepat sampai dari semua orang. Jadilah gua nganggur minum es teh tawar dulu di restoran sebelum akhirnya semua orang sampai di tempat rendezvous. Berikut poto kondisi bus yang gua tumpangi malam ini di halte pertama (catatan: foto di ambil pukul 18:45 yang notabene merupakan jam pulang kerja. Karena gua menuju kota, maka kondisi bus yang kosong melompong gini bukan hal yang aneh).


blogger templates | Make Money Online