Saya senang diperhadapkan pada pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang logis. Di saat-saat nganggur seperti ini, pertanyaan-pertanyaan ini memicu saya untuk berpikir keras dan mendorong saya untuk mencari tahu. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa saja timbul dari pemikiran-pemikiran bodoh saya, pertanyaan-pertanyaan adik saya, atau--pada kasus-kasus tertentu--dari apa-apa yang saya baca. Beberapa pertanyaan memang berupa pertanyaan logika sederhana. Namun demikian, beberapa pertanyaan lainnya justru membutuhkan analisis dan studi pustaka yang mendalam (baca: nge-google). Tentu, pertanyaan-pertanyaan saya kebanyakan memang tidak akan berpengaruh banyak pada kehidupan saya (pertanyaan mengenai kebenaran teori evolusi Darwin, misalnya), namun saya tidak peduli. Toh, dengan pertanyaan-pertanyaan ini, saya satu langkah lebih jauh dari kepikunan dini.
Sehubungan dengan usaha saya menjauhi kepikunan dini tersebut pulalah saya sering ngaskus. Bak gayung bersambut, saya pun sering disuguhi banyak pertanyaan dan informasi yang menarik. Salah satu pertanyaan menarik yang saya temui di kaskusbeberapa jam yang lalu adalah pertanyaan ini. Pertanyaan ini menanyakan apa yang akan terjadi bila kita berpergian dengan pesawat yang bergerak berlawanan arah dengan rotasi bumi. Pertanyaan si penanya sebenarnya hanya berhenti pada apa yang terjadi pada waktunya. Saya lantas berpikir kalau si penanya hanya bertanya apa yang terjadi pada waktu yang kita alami.
Jawaban dari pertanyaan tersebut, tentu saja sangat sederhana. Karena waktu perjalanan akan terus bertambah meskipun waktu lokal terus menunjukkan jam yang sama. Hal ini tentu terjadi karena kecepatan pesawat membuat waktu perjalanan dari satu zona waktu yang satu ke zona waktu yang lain menjadi tepat satu jam.
Namun pertanyaan yang lebih besar sebenarnya adalah apa yang akan terjadi pada penanggalan? Akankan kita tetap berada pada tanggal yang sama (karena jem di waktu lokal kan sama terus)? Kalau tanggalnya berubah, kapankah tanggalnya berubah? Nah kan jadi susah? Mikir deh lo, Sosodara!
Ok, here we go:
Berikut adalah diagram yang perlu diperhatikan. Di bawah bulatan-bulatan di bawah adalah penampang bumi bagian utara (kutub utara menghadap ke arah pembaca):
Nah, seperti yang Anda lihat, waktu lokal tetap sama di semua waktu. Meski demikian, begitu gambar keempat, pesawat berada pada tanggal yang berbeda. Pada gambar keempat dan kelima, pesawat sudah melewati garis penanggalan internasional (GMT +12 dan/atau GMT -12) sehingga tanggal pada waktu lokal sudah berbeda dari pertama kali berangkat meskipun waktunya tetap sama. Bila pada kolom-kolom berwarna hijau kita berangkat pada tanggal 1, maka pada kolom-kolom berwarna biru kita berada pada tanggal 2. Maka, meski waktu lokal tetap menunjukkan pukul 9:00 waktu lokal, tapi tanggal hari itu sudah berbeda.
Moral hari ini: "Jangan pernah menantang diri Anda untuk berpikir lebih jauh. Anda mungkin akan berakhir seperti saya (baca: menulis blog sampai jam 1 pagi).
Jumat, 26 Maret 2010
Pertanyaan Bagus
Diposting oleh Yosua Mahardika Putra di 00.17 0 komentar
Selasa, 16 Maret 2010
Food For The President?
Of many ways to encounter different cultures, food is a great way to do so. As a food enthusiast, I strive to keep my food preference to be open to many culture. Of course, by doing so, I may encounter one or two extreme unfamiliar occasions, but it's all worth the try. Such concept is seemingly well understood by the U.S. Embassy in Jakarta. As many of us expect the arrival of The 44th U.S. President, the embassy is holding a poll to decide which food is to be served to represent Indonesia.
Now, one may argue that the president has enough time to encounter our culture (and by that: our food as well), but I strongly believe that those years are arguably memorable enough. Ones must understand that the cultural experience the president had was merely based on his childhood experience. Yes, you may say that childhood memory is the strongest memory of all, but doesn't it also the weakest of all? Not to mention, the president spent more time on the other continent compared to his time in Indonesia. Thus, letting the people to choose what food to represent our culture might be a good idea after all.
To my foreigners friends, I bragged on how Indonesians are blessed with delicious exotic food. I understand that to many, our food is easily considered as strange. But, through series of well selected food, I proudly gained my friends acceptance towards Indonesian food. The key to win their heart (or shall I say: their bellies) is to choose the food that are traditional yet mildly flavored (i.e.: Soto Semarang). To those who are daring enough to encounter greater adventure, a strong favorite: Rendang is always a winner. NEVERTHELESS, one must carefully select the vendor. No matter how enthusiastically capable the foreigner is, I believe that a conservative less spicy rendang shall do the trick better than a regular hot rendang. This is due to the fact that ones may never be able to measure the other's tolerance upon hot stuffs.
In other words, boring is good. When boring is not good anymore, then you advance to a greater distance. However, no matter how great the distance is, I strongly recommend the hosts to draw a line. The host shall never cross several critical lines. No matter how good it is for us, durian is never an option for foreigners. Most of the time the scent are simply intolerable for them. Another line might call for avoidance upon petai and jengkol. Therefore, I believe that the host is fully responsible for a careful thought upon the selection of the menu. The host must always keep in his/her mind that generally accepted taste are more preferable than simply local favorite.
Even so, I believe that rendang is a perfect cultural representative of Indonesia. It is widely known and accessible throughout the nation and the distinctive flavor, on my experience, leave a strong image on Indonesian food for my foreigner friends. Rendang's ingredients are perfect to map out our geographic condition: heavy coconut milk as a result of miles of seashore, while mountainous areas ensure the generous amount of spice. Thus, I insists on introducing rendang as a part of our identity.
I understand that Indonesia is blessed with abundant variety of food and therefore it is always preferable to introduce this vast variety as much. However, considering the limited time the president has, I believe that the food that is going to be served shall instantly leave a deep impression upon Indonesian food. Towards this criteria, I believe that rendang shall serve as a good cultural ambassador for the time being.
Selamat makan, Pak Presiden!
Diposting oleh Yosua Mahardika Putra di 02.35 0 komentar
Rabu, 17 Februari 2010
Every season is a good season for beautiful musics
For the past few hours I dwell in my memory and adoration towards John Rutter's works. So far, these memories are enough to put him as my favorite composer of the century. You might found that my knowledge upon other composers' works are limited and--by doing so--argue that I have not known enough composers to call for an objective judgment. Nevertheless, my fondness on his works are mostly based on my close (and in some particular numbers--practical) encounters.
The very memory of my practical encounters upon these numbers initiated me to listen to the songs on youtube. The decision to listen to these songs, however, was not a good idea. For instead of limiting my listening sessions to one or two songs, I ended up with listening to a never ending play-list of songs. Yes, up until I wrote this post to you, I am listening to his beautifully crafted works. God, save me. Somebody stop me, please. *sigh*
As most of you readers might have known, I am not a very religious person. So when I bear to listen a list of religious sacred songs, you simply know that the songs are extremely marvelous. That, or I am being strapped on an electrical chair and tortured to listen to bad church songs for my sins.
To give you an idea of the typical song I am listening to, I embed a video from youtube as follow:
Diposting oleh Yosua Mahardika Putra di 10.12 0 komentar
Selasa, 29 September 2009
Cerianya September Ceria
Saya dan keluarga beserta tamu saya pergi ke Puncak beberapa hari setelah lebaran. Kami berkesempatan untuk berpelesir ke Taman Bunga Nusantara. Di tanah seluas 35 hektar tersebut, kami mengobati kekecewaan kami akan Kota Bunga yang tidak lagi berbunga. Nampaknya, nama Kota Bunga harus berganti nama dengan nama lain: Kota Rumput, misalnya.
Memang, tatkala kami datang ke Taman Bunga Nusantara beberapa hari yang lalu, bunga-bunga tengah tidak terlalu bervariasi. Saya tentu paham keadaan ini. Setiap tiga bulan, bunga-bunga yang ada di Taman Bunga Nusantara menyelesaikan siklus kehidupannya. Maka, tiap tiga bulan lah, bunga-bunga tersebut diganti. Terlepas dari berbedanya siklus dan waktu penanaman tiap bunga, saya menduga bahwa Taman Bunga Nusantara tengah memasuki tahap-tahap akhir siklus ketika kami berkunjung. Sehingga, jumlah bunga yang kami dapati tidak sebanyak jumlah yang pernah kami lihat pada kunjungan-kunjungan yang terdahulu.
Meski demikian, bukan Taman Bunga Nusantara namanya kalau tidak ada bunga (namanya tentu akan menjadi Taman Nusantara. Hahaha). Maka, ada saja bunga-bunga yang menarik perhatian saya. Bunga-bunga cantik ini kebanyakan saya temui di rumah kaca. Sayangnya, saya tidak sebegitu rajin untuk mencatatkan nama-nama bunga tersebut. Shakespare dan Juliet sekali waktu pernah berkata, "What's in name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet", bukan? Maka, cukuplah Anda berbagi kekaguman lewat gambar tanpa nama (kalau males, adaaaaa aja alesannya)..jpg)
Saya beruntung dapat melewati hari ulang tahun yang lain dari biasanya tahun ini. Selain saya melewati malam ulang tahun saya di Puncak, saya juga menerima banyak ucapan dan hadiah. Si Tamu dan adik saya berbaik hati untuk membangunkan saya tepat tengah malam. Mereka lantas memberi saya kado berupa boneka Elmo yang persis-persis sama dengan yang dimiliki oleh keponakan saya. Maka, giranglah hati saya.
Reaksi saya, meski begitu, jauh dari harapan mereka berdua. Mereka tadinya berpikir kalau saya akan kecewa berat tatkala saya hanya diberi boneka Elmo tersebut (saya sendiri berpikir, kalau mau membuat saya kecewa, harusnya mereka memberi saya baju dengan ukuran M dan lantas mencoret ukuran M tersebut menjadi XL di depan-depan muka saya; Saya tentu akan gondok setengah mati). Mereka lantas mengeluarkan hadiah lain yang seharusnya menjadi puncak acara setelah saya kecewa. Hadiah tersebut berupa headset--yang saya yakin--mahal harganya. Senang kuadrat.
Masih di hari yang sama, tatkala saya sampai di rumah, Ai dan sepupu serta dua tetua jauh lainnya menyambut saya dengan kue black forest dan hadiah lain. Senang kubik. Dan ketika saya pergi ke gereja malam harinya, pendeta yang berkhotbah mengutip kitab Yosua dan lantas meraung-raung betapa Yosua dicintai oleh Tuhan. Senang pangkat empat.

.jpg)
Esoknya, saya berkesempatan untuk merayakan ulang tahun saya bersama teman-teman saya. Dan bukan hanya makan siang, tapi juga makan malam. Bukan hanya nonton 3d, tapi juga main arcade. Bukan hanya satu mal, tapi juga dua mal. Senang pangkat lima.Terakhir, saya menulis pada Anda. Senang tak terhingga.
Sebagai bonus, saya sertakan mainan yang saya ambil gambarnya di Puncak. yang menarik bukan mainannya. Tapi merek mainannya. Saya terpingkal-pingkal setelah membaca merek mainan tersebut. Bila saja saya tak harus berhemat, saya tentu akan membeli mainan tersebut hanya karena mereknya. Hahaha.
.jpg)
Diposting oleh Yosua Mahardika Putra di 09.07 0 komentar
Rabu, 09 September 2009
Kata Pengantar
Betapa menulis skripsi telah membuat saya begitu rapuh. Betapa menulis skripsi telah menjadi pencapaian besar dalam hidup saya. Betapa menulis skripsi sudah banyak merubah hidup saya. Betapa tak mungkin saya menyelesaikan penulisan skripsi saya tanpa campur tangan banyak orang. Sebagian dari orang-orang ini ada tercatat di Kata Pengantar saya. Kebanyakan dari Beliau-Beliau ini bahkan tak tahu namanya ada di Kata Pengantar tersebut. Meski demikian, saya percaya, ketidaktahuan orang-orang ini, justru merupakan bukti betapa mereka adalah orang-orang yang tidak pamrih. Orang-orang yang tak sadar bahwa hidupnya dan karyanya telah mempengaruhi banyak orang lain.
Selagi saya terkenang-kenang akan skripsi saya, izinkanlah saya membagi sebagian memori saya. Berikut ini tersebut orang-orang yang banyak berjasa buat saya. Berikut ini kata pengantar yang saya tulis:
"Penulis menghaturkan puji syukur ke bawah duli Tuhan Yang Maha Esa. Belas kasihan dan bimbingan-Nya yang penuh telah menuntun penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
Tugas akhir berjudul "ADVERSE SELECTION EQUITY MARKET TIMING PADA EMITEN-EMITEN BURSA EFEK INDONESIA PADA TAHUN 1992-2007" ini merupakan sebagian persyaratan akhir untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Satu Universitas Pelita Harapan.
Dengan segala kerendahan hati, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan selesai tepat tanpa peran serta dan bantuan banyak pihak. Penulis berterima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu terwujudnya skripsi ini, di antaranya:
1) Bapak Prof. Dr. Roy Sembel, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
2) Bapak Dr. Kim Sung Suk, selaku Kepala Jurusan Manajemen, Dosen Pembimbing, dan Dosen Pembimbing Akademik yang telah bersedia menjadi mentor, penyemangat spiritual, teman diskusi--dan terlebih--pendidik yang berintegritas tinggi bagi penulis.
3) Ibu Dr. Titik Indrawati, S.E., M.E. dan Bapak Drs. Tagor Panjaitan yang menjadi panutan besar penulis atas segala pemikiran, gagasan, dan keterbukaan Beliau terhadap teori-teori keuangan serta pengajaran-pengajaran yang penulis terima semasa berkuliah di Universitas Pelita Harapan.
4) Tuan dan Nyonya Prof. Generoso Octavio yang memicu ketertarikan penulis akan dunia keuangan serta suporter doa yang setia bagi banyak anak didiknya.
5) Dr. Gn Godman, Dr. Juanna Judith H., Bapak J. Ongkowidjaja, S.E., Linawati Arifin, S.E., Bapak Ardo R. Dwitanto, S.E., M.S.M. Bapak A. Aries H. Prasetyo, S.E., M.M., RFP-I, dan seluruh staf tata usaha Fakultas Ekonomi dan Perpustakaan Universitas Pelita Harapan yang banyak membantu penulis semasa perkuliahan dan penulisan skripsi.
6) Orang tua penulis, atas tuntunan dan dukungan tak bersyarat serta kepercayaan yang besar atas penulis. Kepada kedua orang tua ini penulis mendedikasikan segala jerih upaya penulis.
7) Tuan dan Nyonya A. Suryadi, Tuan dan Nyonya Henry Lie, Lidya Dianty, Baby R. Limous, Sonia Limous, Celine Limous, Dea Suryadi, dan seluruh keluarga besar atas kepercayaan dan kebanggaan yang ditanamkan pada penulis.
8) Ibu Dra. Sugiharti, pendidik, pemerhati pendidikan, sahabat, mentor, dan pencelik wawasan yang membangun bagi penulis dan banyak anak didiknya yang lain.
9) Tuan R. J. Singal, dan Nona E. Wendyono yang telah menjadi sahabat karib dan pemerhati penulis di segala lini kehidupan tanpa pandang waktu.
10) Christy Roesli, Clarissa A. Intani, Yunengsi, dan Carolus E. C. S. yang ada dan sedia di saat penulis membutuhkan. Sahabat kritis yang manusiawi dan menyenangkan.
11) Teman-teman sekelas yang banyak membantu penulis semasa berkuliah di Universitas Pelita Harapan.
12) Tuan B. Gates, Tuan S. Brin, dan Tuan L. Page yang telah merevolusi cara penulis dalam berkehidupan.
13) Dan pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karenanya, penulis meminta maaf atas segala kekurangan yang terdapat pada skripsi ini. Penulis menerima dengan senang hati segala masukan, saran, dan kritik membangun demi perbaikan penelitian ini. Penulis mengharapkan skripsi ini dapat berkontribusi bagi masyarakat intelektual dalam memperluas wawasan.
Karawaci, 20 Februari 2009
Penulis"
Diposting oleh Yosua Mahardika Putra di 08.19 1 komentar
Rabu, 26 Agustus 2009
Life in frame
Saya lantas berpikir: "Lima saja anak seperti ini menjadi pengunjung di Taman Safari per harinya, saya percaya anak-cucu kita tak akan bisa melihat Taman Safari karena Taman Safari tentu sudah ditutup saking terlalu besarnya kemungkinan jatuhnya korban jiwa."
Masih bicara tentang foto. Berapa banyak dari Anda yang sudah memiliki foto keluarga? Yang di studio-studio foto begitu? Umur berapa Anda berfoto bersama keluarga Anda?
Betapa pun, saya senang bisa berfoto. Bukankah mengurung memori Anda dalam gambar adalah hal yang menyenangkan? Tak heran bila begitu banyak dari kita (ya, kita: SAYA dan ANDA) tenggelam dalam kenarsisan yang begitu akut. Hehehe. Selamat berfoto!
Diposting oleh Yosua Mahardika Putra di 22.05 0 komentar
Jumat, 03 Juli 2009
New day, new things...
Ever got told by your parents not to talk to strangers? Because they're dangerous? Because you don't know them? Well, I did got that line back when I was a child. And since I'm a little bit older now, I get to talk to strangers. Of course, I wouldn't talk to someone in the middle of the street. You see, chances are, people might got scared or something to see a ginormous looking stranger pops out and try to make a conversation. But what if you can talk to strangers? What will you say?
Some might think that the idea is dull. I understand the others wouldn't even imagine themselves to talk to strangers. But I kinda like the idea, really. I believe in humans. And I believe in good qualities in humans. And since strangers are humans, I do not see any reason why we should not talk to strangers if the strangers are willingly to talk to us: strangers in their point of view.
Back in my secondary years, there was this thing called mIRC. It is the fun thing to do back then. As I would chat with people that I don't know. Sadly, as time goes by, the people in mIRC are less than friendly to strangers. And even if some people do, most of them will try to get something out of you (your money, your nude pictures, etc.). So I do not wished to chat over mIRC anymore.
Until few hours ago, when I found this thread in an Indonesian forum called Kaskus.us. It tells about this fine website that allows you to chat with other strangers. Of course, you would've found people who are still annoying and impolite. Yet once you found some people who are simply want to chat with other people, you'll find it interesting. I, for instance, got two new friends: one is a Korean who is pursuing his degree in US, and the other is a Taiwanese girl who is learning English.
On the same day, I received an email from Cink-cink. For me, on the same tone, it tells on how humans are actually kind-hearted and pure in nature. In that e-mail, children are given a task. The task is to write to God. Here are some of the letters that they wrote:













Diposting oleh Yosua Mahardika Putra di 14.46 3 komentar
.jpg)